Ekosistem Pekarangan Desa dan Talun

Agustus 29, 2017 0

          George H. Friend, dkk (2006), unit ekologis adalah ekosistem, yang merupakan sebuah kelompok yang terdiri dari beragam populasi yang berintraksi dalam suatu deerah tertentu. Daerah tersebut( habitat ) bias jadi hanya sekecil kolam, berbagai populasi yang berintraksi dalam ekosistem disebut sebagai komunitas, yakni komponen-komponen hidup dari suatu ekosistem. Ekosistem memiliki ciri-ciri di antaranya adalah: aliran energi, penduaran nutrien, pengatur ukuran populasi.

ekosistem

          Komponen pembentuk ekosistem yaitu komponen abiotik, komponen abiotik, komponen heterotrof, dan komponen pengurai atau dekomposer (Infoini.com, 2012)

Pengertian Komponen Abiotik dan contohnya

          Komponen Abiotik (Komponen tak hidup) adalah komponen fisik dan kimia yang merupakan medium atau substrat tempat berlangsungnya kehidupan, atau lingkungan tempat hidup.

1. Suhu 
          Suhu adalah besaran yang menyatakan derajat panas dingin suatu benda dan alat yang digunakan untuk mengukur suhu adalah thermometer. Dalam kehidupan sehari-hari masyarakat untuk mengukur suhu cenderung menggunakan indera peraba.

suhu ekosistem, komponen abiotik

2. Air 
          Air adalah senyawa yang penting bagi semua bentuk kehidupan yang diketahui sampai saat ini di Bumi, tetapi tidak di planet lain. Air menutupi hampir 71% permukaan Bumi. Terdapat 1,4 triliun kilometer kubik tersedia di Bumi. Wikipedia

air, komponen abiotik

3. Garam 
          Dalam ilmu kimia, garam adalah senyawa ionik yang terdiri dari ion positif dan ion negatif, sehingga membentuk senyawa netral. Garam terbentuk dari hasil reaksi asam dan basa. Wikipedia

garam, komponen abiotik

4. Cahaya matahari 
          Sinar matahari atau radiasi matahari adalah sinar yang berasal dari Matahari. Tanaman menggunakan cahaya matahari untuk berfotosintesis dan membuat makanan. Tanpa cahaya matahari, takkan ada kehidupan di bumi. Wikipedia

cahaya matahari, komponen abiotik


5. Tanah dan batu 
          Tanah adalah bagian yang terdapat pada kerak bumi yang tersusun atas mineral dan bahan organik. Tanah merupakan salah satu penunjang yang membantu kehidupan semua mahluk hidup yang ada di bumi. Sedangkan Dalam geologi, batu (tunggal) dan batuan (jamak) adalah benda padat yang tebuat secara alami dari mineral dan atau mineraloid. Lapisan luar padat Bumi, litosfer, terbuat dari batuan. Dalam batuan umumnya adalah tiga jenis, yaitu batuan beku, sedimen, dan metamorf.

tanah, komponen abiotik

6. Iklim
          Iklim adalah kondisi rata-rata cuaca berdasarkan waktu yang panjang untuk suatu lokasi di bumi atau planet lain. Studi tentang iklim dipelajari dalam klimatologi. Wikipedia

iklim, komponen abiotik

Pengertian komponen biotik (Komponen hidup)

          Biotik (Komponen hidup) adalah bagian lingkungan yang berupa makhluk-makhluk hidup
1. Fungi 
          Fungi adalah nama regnum dari sekelompok besar makhluk hidup eukariotik heterotrof yang mencerna makanannya di luar tubuh lalu menyerap molekul nutrisi ke dalam sel-selnya. Wikipedia

fungi, komponen biotik

2. Tumbuhan 
          Dalam biologi, tumbuhan adalah organisme eukariota multiseluler yang tergolong ke dalam kerajaan Plantae. Wikipedia

tumbuhan, komponen biotik

3. Hewan 
          Hewan atau disebut juga dengan binatang adalah kelompok organisme yang diklasifikasikan dalam kerajaan Animalia atau metazoa, adalah salah satu dari berbagai makhluk hidup di bumi. Sebutan lainnya adalah fauna dan margasatwa. Wikipedia

hewan, komponen biotik

4. Monera
          Monera adalah salah satu kingdom dalam klasifikasi biologi sistem lima-kingdom, yang sekarang sudah tidak dipakai lagi. Wikipedia


monera, komponen biotik


Definisi dan Pengertian Pekarangan

Apa itu Ekosistem?

          Ekosistem adalah suatu unit ekologi yang di dalamnya terdapat hubungan antara struktur dan fungsi. Struktur yang dimaksudkan dalam definisi ekosistem tersebut adalah berhubungan dengan keanekaragaman spesies atau species diversity (Infoini.com, 2012)

          Suatu ekosistem pada dasarnya merupakan suatu sistem ekologi tempat berlangsungnya sistem pemrosesan energi dan perputaran materi oleh komponen-komponen ekosistem dalam waktu tertentu. Unsur-unsur ekosistem terdiri dari unsur komponen abiotik yang terdiri dari habitat seperti tanah, air, udara, materi organik, dan anorganik hasil dekomposisi makhluk hidup termasuk cahaya matahari dan iklim, dan komponen biotik yang terdiri dari semua unsur makhluk hidup, tumbuhan, hewan, dan mikrobiota; yang tersusun dari unsur ototrof sebagai produsen (tumbuhan hijau), unsur heterotrof sebagai konsumen dan dekomposer (Elfis, 2010a). 

          Dalam ekosistem, organisme dalam komunitas berkembang bersama-sama dengan lingkungan fisik sebagai suatu sistem. Organisme akan beradaptasi dengan lingkungan fisik, sebaliknya organisme juga memengaruhi lingkungan fisik untuk keperluan hidup. Pengertian ini didasarkan pada Hipotesis Gaia, yaitu: organisme, khususnya mikroorganisme, bersama-sama dengan lingkungan fisik menghasilkan suatu sistem kontrol yang menjaga keadaan di bumi cocok untuk kehidupan (Wikipedia, 2012). 

          Pekarangan berasal dari arti kata ‘karang’ yang berarti halaman rumah (Poerwodarminto, 1976). Sedang secara luas, Terra (1948) memberikan batasan pengertian sebagai berikut: Pekarangan adalah tanah di sekitar perumahan, kebanyakan berpagar keliling, dan biasanya ditanami padat dengan beraneka macam tanaman semusim maupun tanaman tahunan untuk keperluan sendiri sehari-hari dan untuk diperdangkan. Pekarangan kebanyakan saling berdekaan, dan besama-sama membentuk kampung, dukuh, atau desa.

          Pekarangan adalah sebidang tanah di sekitar rumah yang mudah di usahakan dengan tujuan untuk meningkatkan pemenuhan gizi mikro melalui perbaikan menu keluarga. Pekarangan sering juga disebut sebagai lumbung hidup, warung hidup atau apotik hidup. Dalam kondisi tertentu, pekarangan dapat memanfaatkan kebun/rawa di sekitar rumah (Wikipedia, 2012).

ekosistem perkarangan desa

          Menurut Elfis (2007), pekarangan berkembang dari respon masyarakat terhadap meningkatnya tekanan terhadap populasi dan jumlah penduduk di pedesaan, atau pedesaan yang berubah menuju kearah perkotaan. Evolusi pekarangan berkembang melukiskan sistem kebun-talun yang terdiri dari beberapa fase.

Fase-fase pekarangan

1. Terbentuk sesudah menebang hutan, disebut dengan fase kebun. Pada fase kebun ditanami tanaman-tanaman semusim. Hasil tanaman dari kebun dikonsumsi sendiri oleh keluarga petani dan sebagian lagi dijual.
2. Fase setelah dua tahun, di kebun mulai tumbuh anakan tanaman keras. Makin lama ruangan bagi tanaman semusim makin berkurang. Maka mulailah terbentuk kebun campuran. Kebun campuran berperan penting dalam konservasi tanah dan air.
3. Fase ini terjadi sesudah tanaman semusim dalam kebun campuran dipanen, lapangan biasanya ditinggalkan selama kurang lebih 2-3 tahun, sehingga didominasi oleh tanaman kera yang disebut kebun talun. Faktor-faktor yang mempengaruhi struktur pekarangan dapat diklasifikasikan dalam 2 golongan yaitu: (karyono, 1981) 

1.Faktor fisik

• Ketinggian tempat dari permukaan laut
• Curah hujan
• Hari hujan
• Pergantian musim

2. Faktor sosial budaya dan ekonomi

• Luas pekarangan
• Luas pemilikan sawah
• Kombinasi bentuk pemilikan tanah
• Bentuk rumah
• Tingkat pendidikan kepala keluarga
• Jumlah anggota keluarga
• Jarak tempat dari kota

Karakteristik Pekarangan

         Menurut Elfis (2010), lapisan yang lebih tinggi adalah pohon yang ketinggiannya berbeda-beda, dan terdiri dari beberapa lapisan tajuk seperti:
• Lapisan yang lebih rendah merupakan pohon kecil seperti jeruk, jambu biji, kopi, dan coklat
• Lapisan tengah di dominasi oleh berbagai jenis buah-buahan seperti nangka, jengkol, mangga, rambutan, dan manggis
• Lapisan tertinggi terdiri dari pohon, yaitu pohan durian,atau kelapa yang ketinggian nya biasa mencapai 30 m.

Apa Fungsi Pekarangan Desa? 

          Menurut penyelidikan Dinas Perkebunan Rakyat dahulu dalam Satiadireja (1984), fungsi pekarangan adalah:
• Penghasil makanan tambahan, yaitu tambahan pada makanan pokok (beras, jagung, ubi kayu).
• Pekarangan memberikan hasil setiap hari, hingga bagi petani menjadi sumber bahan makanan tetap atau menjadi sumber penghasil uang.
• Pekarangan menghasilkan rempah-rempah, obat-obatan, keperluan rumah tangga dan bunga-bungaan.
• Pekarangan menghasilkan bahan bangunan-bangunan, terutama bambu, yang banyak ditanam di pinggir pekarangan.
• Pekarangan menghasilkan kayu bakar, baik dari pohon buah- buahan maupun dari kayu-kayuan yang ditanam sebagai kayu bakar.
• Pekarangan menghasilkan bahan-bahan dasar untuk berbagai kerajinan tangan.
• Di beberapa daerah pekarangan menghasilkan pula berbagai hewan ternak.

Pengertian Talun

          Menurut Yanto (2008), talun merupakan salah satu komponen yang umum ditemukan pada agroekosistem. Talun adalah salah satu sistem agroforestry yang khas, ditanami dengan campuran tanaman tahunan/kayu (perennial) dan tanaman musiman (annual), dimana strukturnya menyerupai hutan, secara umum ditemui di luar pemukiman dan hanya sedikit yang berada di dalam pemukiman (Soemarwoto dan Soemarwoto, 1984).

Klimatologis ekosistem pekarangan desa dan talun


          Klimatologi sangat penting bagi ekologi tumbuhan. Adapun faktor penting yang mempengaruhi penyebaran dan pertumbuhan tumbun-tumbuhan adalah iklim. Unsur-unsur iklim seperti temperatur, curah hujan, kelembapan, dan tekanan uap air berpengaruh terhadap pertumbuhan pohon.

Edaphis Ekosistem Pekarangan dan Talun

         Faktor Edaphis meliputi pH, jenis tanah, tekstur, altitude, salinitas dan lain-lain (Wordpress, 2010). Mengenai jenis tanah terdapat sifat fisiologi masing-masing dalam pengambilan atau penyerapan ion.

 Edaphis Ekosistem Pekarangan dan Talun

Interaksi antar organisme 

          Menurut Fatma dalam Yera (2010), di atas lahan perkarangan dan talun tumbuhan berbagai macam jenis tanaman yang merupakan suatu komunitas, tidak jarang pada lahan yang sama, di pelihara ikan dalam suatu ekosistem berinteraksi satu sama lain dan juga berinteraksi dengan lingkungan biotik. Interaksi suatu organisme dengan lingkungannya terjadi untuk kelansungan hidup (Aryulina, 2006).

Interaksi antar organisme



Pengertian Simbiosis mutualisme

          Yaitu interaksi antar dua individu ataupun populasi yang saling menguntungkan. Misalnya, dapat ditemukan pada ekosistem perkebunan yaitu hubungan kerbau dengan burung   

Simbiosis mutualisme

Pengertian Simbiosis parasitisme

          Yaitu interaksi dua individu atau populasi yang mengakibatkan makhluk hidup yang satu mendapatkan keuntungan dan yang satu dirugikan. Misalnya hubungan tumbuhan benalu dengan pohon Jambu.

 
 Simbiosis parasitisme

Pengertian Rantai Makanan

Rantai makanan adalah peristiwa makan dan dimakan yang digambarkan secara skematis dalam bentuk garis lurus searah dan tidak bercabang. Misalnya rumput => belalang => ayam => ular, maka terjadi perpindahan energy dari produsen => konsumen I I => konsumen II => konsumen III.

Jaring-jaring makanan

         Beberapa rantai makanan dengan pola yang lebih rumit dari contoh rantai makanan di atas dan saling berkaitan membentuk sebuah jaring-jaring makanan

Jaring-jaring makanan

Pengertian Piramida Makanan

         Piramida makanan adalah suatu piramida yang menggambarkan perbandingan komposisi jumlah biomassa dan energi dari produsen sampai konsumen puncak dalam suatu ekosistem
Piramida Makanan


Gambar jaring-jaring makanan di salah satu perkebunan penduduk Desa

jaring makanan di salah satu perkebunan penduduk Desa

PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN TPS (THINK, PAIR, SHARE)

Agustus 28, 2017 0
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan susana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara” menurut UU Sisdiknas No. 20 tahun 2003. Dalam pendidikan terdapat tiga komponen penting, yaitu pendidik, peserta didik dan fasilitas. Dalam kaitannya butir (1) pasal 40 UU Sisdiknas, tentang kewajiban pendidik untuk menciptakan susasana pendidikan yang bermakna, menyenangkan, kreatif, dinamis dan dialogis yang diharapkan dengan terciptanya suasana tersebut, peserta didik lebih memahami materi yang diajarkan guru.
Di kalangan umum, terutama siswa sekolah dasar, menengah dan perguruan tinggi, belajar tidak pernah menjadi hal yang menyenangkan bagi mereka, belajar dipandang sebagai musuh yang patut dijauhi, kini belajar adalah hal yang menyenangkan dan nyaman tanpa perasaan cemas, takut, dan lelah dengan panduan dari pembelajaran.
Salah satu model pembelajaran kooperatif yang dapat dipilih agar belajar menjadi suatu hal yang menyenangkan adalah model pembelajaran think, pair and share. Model pembelajaran ini dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa bersama pasangan kelompoknya untuk merumuskan jawaban dari pertanyaan yang telah diajukan guru. Siswa dapat mengembangkan kemampuan mengungkapkan ide atau gagasan dengan kata-kata secara verbal dan membandingkannya dengan ide orang lain dan mendapatkan pemahaman dari ide yang diujinya sendiri. Interaksi yang terjadi selama pembelajaran dapat meningkatkan motivasi dan memberi rangsangan untuk berpikir sehingga bermanfaat dalam proses pembelajaran jangka panjang.
Model pembelajaran kooperatif tipe TPS merupakan salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang telah memiliki prosedur yang ditetapkan secara eksplisit untuk memberi siswa lebih banyak untuk berfikir , menjawab dan saling membantu satu sama lain. Metode pembelajaran ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengemukakan jawaban yang sangat tepat, serta mendorong siswa untuk meningkatkan kerja sama antar siswa.

Penelitian yang dilakukan  oleh Lailatul Mufidah, Dzulkifli Effendi, dan Titi Teri Purwanti berdasarkan jurnal Vol.1, No.1, April 2013 ISSN: 2337-8166 menggunakan metode penelitian TPS sebagai alat untuk menjawab rumusan masalah sehingga tercapai tujuan penelitian. Model TPS sebagai metode penelitian yang sistematis dan fleksibel dan bertujuan untuk meningkatkan aktivitas belajar siswa mmelalui analisis yang berulang-ulang (iterative analysis), mendesign atau memperbaiki design sebelumnya, dan pelaksanaan (implementation) berdasarkan kerjasama diantara peneliti dan pelaksana dalam lapangan (daily life settings), dan mengacu pada design teori-teori dan prinsip-prinsip secara kontekstual.

 Apa itu Pembelajaran Kooperatif?

Pembelajaran kooperatif adalah salah satu bentuk pembelajaran yang berdasarkan paham konstruktivis. Pembelajaran kooperatif merupakan strategi belajar dengan sejumlah siswa sebagai anggota kelompok kecil yang tingkat kemampuannya berbeda. Dalam menyelesaikan tugas kelompoknya, setiap siswa anggota kelompok harus saling bekerja sama dan saling membantu untuk memahami materi pelajaran. Dalam pembelajaran kooperatif, belajar dikatakan belum selesai jika salah satu teman dalam kelompok belum menguasai bahan pelajaran.

pembelajaran kooperatif


Model pembelajaran kooperatif adalah salah satu model pembelajaran yang menempatkan siswa sebagai subjek pembelajaran (student oriented). Dengan suasana kelas yang demokratis, yang saling membelajarkan memberi kesempatan peluang lebih besar dalam memberdayakan potensi siswa secara maksimal. Peran guru dalam pembelajaran kooperatif sebagai fasilitator, moderator, organisator dan mediator terlihat jelas.

Siapa Pengembang Pembelajaran TPS (Think Pair Share)?

          Salah satu contoh pembelajaran kooperatif adalah TPS (Think Pair Share). Model pembelajaran Think-Pair- Share (TPS) dikembangkan oleh Frank Lyman dkk dari Universitas Maryland pada tahun 1985. Model pembelajaran Think-Pair-Share (TPS) merupakan salah satu model pembelajaran kooperatif sederhana. Teknik ini memberi kesempatan pada siswa untuk bekerja sendiri serta bekerja sama dengan orang lain. Keunggulan teknik ini adalah optimalisasi partisipasi siswa (Lie, 2004).

Apa Keunggulan Pembelajaran TPS (Think Pair Share)?
          Dengan model pembelajaran ini siswa dilatih bagaimana mengutarakan pendapat dan siswa juga belajar menghargai pendapat orang lain dengan tetap mengacu pada materi/ tujuan pembelajaran. Think pair share dirancang untuk mempengaruhi interaksi siswa. Struktur ini menghendaki siswa bekerja saling membantu dalam kelompok-kelompok kecil.

keunggulan pebelajaran tps


Think Pair Share (TPS) merupakan suatu teknik sederhana dengan keuntungan besar. Think Pair Share (TPS) dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam mengingat suatu informasi dan seorang siswa juga dapat belajar dari siswa lain serta saling menyampaikan idenya untuk didiskusikan sebelum disampaikan di depan kelas. Selain itu, Think Pair Share (TPS) juga dapat memperbaiki rasa percaya diri dan semua siswa diberi kesempatan untuk berpartisipasi dalam kelas. Think Pair Share (TPS) sebagai salah satu metode pembelajaran kooperatif yang terdiri dari 3 tahapan, yaitu thinking, pairing, dan sharing. Guru tidak lagi sebagai satu-satunya sumber pembelajaran (teacher oriented), tetapi justru siswa dituntut untuk dapat menemukan dan memahami konsep-konsep baru (student oriented).
Model pembelajaran Think-Pair-Share (TPS) adalah salah satu model pembelajaran yang memberi kesempatan kepada setiap siswa untuk menunjukkan partisipasi kepada orang lain. Dengan metode klasikal yang memungkinkan hanya satu siswa maju dan membagikan hasilnya untuk seluruh kelas, tipe Think-Pair-Share (TPS) ini memberi kesempatan sedikitnya delapan kali lebih banyak kepada siswa untuk dikenali dan menunjukkan partisipasi mereka kepada orang lain (Lie, 2004).
Arends (Komalasari,  2010) mengemukakan bahwa: “Model pembelajaran Think Pair Share merupakan suatu cara yang efektif untuk membuat variasi suasana pola diskusi kelas. Dengan asumsi bahwa semua resitasi atau diskusi membutuhkan pengaturan untuk mengendalikan kelas secara keseluruhan, dan prosedur yang digunakan dalam Think Pair and Share dapat memberi murid lebih banyak waktu berfikir, untuk merespon dan saling membantu. Bertitik tolak dari pengertian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa ada tiga hal mendasar yang harus dilakukan dalam model pembelajaran Think Pair and Share antara lain; berfikir (thinking), berpasangan (pairing), dan berbagi (share).
Alternatif  proses belajar mengajar dengan model pembelajaran Think Pair  Share merupakan jenis pembelajaran kooperatif yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi murid. Hal ini dapat dilihat dalam langkah langkah dalam model pembelajaran ini, yaitu murid melakukan diskusi dalam dua tahap yaitu tahap diskusi dengan teman sebangkunya kemudian dilanjutkan diskusi dengan keseluruhan kelas pada tahap berbagi (sharing).

Langkah-langkah Pembelajaran Think Pair Share (TPS)

Model pembelajaran think pair share ini merupakan model pembelajaran yang dilakukan untuk meningkatkan belajar kolaboratif dan mendorong kepentingan dan keuntungan sinergi itu. Oleh karena hal itu Silberman (2009) menyebutkan istilah ”dua kepala tentu lebih baik daripada satu”. Langkah- langkah dalam Pembelajaran Kooperatif Tipe Think Pair Share sebagai berikut.
a)    Langkah 1, yaitu berfikir (thinking)
berfikir (thinking), langkah-langkah tps

Guru  mengajukan suatu pertanyaan atau masalah yang dikaitkan dengan pelajaran, dan meminta siswa menggunakan waktu beberapa menit untuk berfikir sendiri jawaban atau masalah. Siswa membutuhkan penjelasan bahwa berbicara atau mengerjakan bukan berfikir.
b)   Langkah 2, yaitu berpasangan (pairing)
berpasangan (pairing), langka-langka tps

Selanjutnya guru meminta siswa untuk berpasangan dan mendiskusikan apa yang mereka peroleh. Interaksi selama waktu yang disediakan dapat menyatukan gagasan masing- masing siswa. Secara normal guru memberi waktu tidak lebih 4 atau 5 menit untuk berpasangan.
c)    Langkah 3, yaitu berbagi (sharing)
berbagi (sharing), langkah-langkah tps

Pada tahap akhir, guru meminta pasangan- pasangan untuk berbagi dengan kelompok berpasangan keseluruhan kelas. Hal ini efektif baik untuk guru  maupun siswa untuk mengetahui ide- ide dari pasangan, dan kegiatan sharing ini dilanjutkan sampai sekitar sebagian pasangan mendapat hasil dari yang didiskusikan untuk dilaporkan atau dipresentasikan.

 Kelebihan Model Pembelajaran Think-Pair-Share (TPS)

Model Pembelajaran ini bisa menjadi pilihan bagi Guru kelas yang memiliki jumlah murid yang sedikit karena dalam penyusunan kelompok nantinya membentuk pasangan berkelompok 2 orang saja.
 Kelebihan Model Pembelajaran Think-Pair-Share (TPS)

Model pembelajaran kooperatif dengan metode Think-Pair-Share  memiliki beberapa kelebihan. Kelebihannya antara lain:
1)   Meningkatkan daya pikir siswa.
2)   Memberikan lebih banyak waktu pada siswa untuk berfikir.
3)   Mempermudah siswa dalam memahami konsep-konsep sulit karena siswa saling membantu dalam menyelesaikan masalah.
4)   Pengawasan guru terhadap anggota kelompok lebih mudah karena hanya terdiri dari 2 orang.
Sedangkan Fadholi (2009:1) mengemukakan 5 Kelebihan Model Pembelajaran Think Pair and Share ( TPS ) sebagai berikut:
1)   Memberi murid waktu lebih banyak untuk berfikir, menjawab, dan saling membantu satu sama lain.
2)   Lebih mudah dan cepat membentuk kelompoknya.
3)   Murid lebih aktif dalam pembelajaran karena menyelesaikan tugasnya dalam kelompok, dimana tiap kelompok hanya terdiri dari 2 orang.
4)   Murid memperoleh kesempatan untuk mempersentasikan hasil diskusinya dengan seluruh murid sehingga ide yang ada menyebar.
5)   Memungkinkan murid untuk merumuskan dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan mengenai materi yang diajarkan karena secara tidak langsung memperoleh contoh pertanyaan yang diajukan oleh guru, serta memperoleh kesempatan untuk memikirkan materi yang diajarkan.
Menurut Spencer Kagan (dalam Maesuri, 2002:37) manfaat Think Pair and Share adalah:
a. Para siswa menggunakan waktu yang lebih banyak untuk mengerjakan tugasnya dan untuk mendengarkan satu sama lain ketika mereka terlibat dalam kegiatan Think Pair and Share lebih banyak siswa yang mengangkat tangan mereka untuk menjawab setelah berlatih dalam pasangannya. Para siswa mungkin mengingat secara lebih seiring penambahan waktu tunggu dan kualitas jawaban mungkin menjadi lebih baik, dan
b. Para guru juga mungkin mempunyai waktu yang lebih banyak untuk berpikir ketika menggunakan Think Pair and Share. Mereka dapat berkonsentrasi mendengarkan jawaban siswa, mengamati reaksi siswa, dan mengajukan pertanyaaan tingkat tinggi.

Kelemahan Model Pembelajaran Think-Pair-Share
Kelemahan  Think-Pair-Share

1)   Jika jumlah kelas sangat besar, maka jumlah kelompok yang terbentuk banyak sehingga guru akan mengalami kesulitan dalam membimbing siswa yang membutuhkan perhatian lebih.
2)   Pemahaman tentang konsep dalam setiap pasangan akan berbeda sehingga akan dibutuhkan waktu tambahan untuk pelurusan konsep oleh guru dengan menunjukkan jawaban yang benar.
3)   Lebih banyak waktu yang diperlukan untuk mempresentasikan hasil diskusi karena jumlah pasangan yang sangat besar.
4)   Jumlah siswa yang ganjil berdampak pada saat pembentukan kelompok, karena ada satu siswa tidak mempunyai pasangan.
5)   Lebih sedikit ide yang muncul dan jika ada perselisihan,tidak ada penengah karena dalam kelompok hanya terdiri dari 2 orang.
6)   Membutuhkan koordinasi secara bersamaan dari berbagai aktivitas dan membutuhkan perhatian khusus dalam penggunaan ruangan kelas.

Pembahasan dari dua jurnal penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TPS 

Berdasarkan dua jurnal yang berjudul “Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TPS Untuk Meningkatkan Aktivitas Belajar Siswa Pada Pokok Bahasan Matrik”,  dan “Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Think Pair Share Untuk Memahamkan Materi Logaritma Kelas X SMKN 5 Malang menunjukkan adanya peningkatan ketuntasan belajar siswa dengan penerapan pembelajaran TPS.
Pada jurnal pertama, diperoleh berbagai data yaitu data hasil belajar siswa, data hasil pengamatan aktivitas siswa selama kegiatan belajar mengajar dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS), dan data mengenai respon siswa terhadap pembelajaran matematika dengan model kooperatif tipe Think Pair Share (TPS). Setelah dilakukan analisis dan hasil dengan materi matrix diperoleh rata-rata siswa pada siklus I yaitu 71,34. Siswa yang tuntas sebanyak 25 siswa dan siswa yang tidak tuntas 16 siswa. Tanggapan siswa tentang pembelajaran dilakukan pada setiap akhir siklus.
Pada siklus II terdapat peningkatan. Di peroleh rata-rata hasil tes yang diberikan kepada siswa pada siklus II adalah sebesar 78,87. Ketuntasan belajar klasikal sebesar 70,73 % atau sebanyak 29 siswa tuntas belajar dengan mendapatkan nilai >65 dikarenakan siswa sudah berkurangnya berbicara sendiri dengan temannya, siswa sudah mendengarkan penjelasan guru, melaksanakan latihan, menguasai materi, memberikan tanggapan hasil presentasi dari kelompok lain dengan baik,siswa sudah tidak seramai seperti pada awal pembelajaran. Pada siklus II aktivitas siswa ada peningkatan dibandingkan dengan siklus I, prosentase tebesar >50% dikarenakan memperhatikan penjelasan guru,mengerjakan latihan dari guru dengan baik, siswa tidak ada yang sibuk berbicara sendiri dengan temannya, tidak ada yang bermain hp ataupun makan didalam kelas,tidak ada yang sibuk mengerjakan PR didalam kelas, siswa tidak lagi berjalan jalan atau berkeliling didalam kelas.
Pada siklus III terdapat peningkatan. Diperoleh rata-rata hasil tes yang diberikan kepada siswa pada siklus III adalah sebesar 82,02. Ketentuan belajar secra klasikal sebesar 85,36% atau sebanyak 35 siswa memperoleh nilai > 65. Pada siklus III aktivitas siswa lebih meningkat lagi dibandingkan dengan siklus I dan II. Ditandai dengan perolehan prosentase hasil observasi yang tinggi yaitu rata-rata > 50 % dikarenakan memperhatikan penjelasan guru,berdiskusi atau bertanya, bekerja dengan kelompok, mempresentasikan kedepan kelas dengan baik,memberikan tanggapan, melaksanakan latihan,dan siswa sudah tidak ada yang bermain hp ataupun makan didalam kelas,tidak ada lagi yang memintak ijin keluar kelas ke kamar mandi,dan tidak ada lagi siswa yang berkeliling atau berjalan-jalan di dalam kelas,tidak ada siswa yang sibuk mengerjakan PR.
Pada jurnal kedua juga terdapat peningkatan hasil belajar, tetapi berdasarkan hasil observasi, catatan lapangan, maupun nilai tes siswa pada siklus I masih terdapat kelemahan-kelemahan selama proses pembelajaran dan target atau kriteria ketuntasan belajar siswa belum tercapai. Kelemahan-kelemahan tersebut antara lain adalah sebagai berikut (1) siswa banyak yang bergurau pada saat pembelajaran berlangsung, terutama pada saat tahap pair, (2) siswa melakukan kegiatan dengan lambat, sehingga waktu terlaksananya pembelajaran melebihi alokasi waktu pada rencana pelaksanaan pembelajaran, (3) siswa belum memahami materi prasyarat logaritma yaitu materi eksponen dan bentuk akar, (4) siswa tidak mau bekerja sama dengan kelompoknya, (5) masih terjadi kesalahan dalam menuliskan simbol, yang dapat mengakibatkan kesalahan dalam mengerjakan soal, (6) hasil tes akhir siklus I yaitu hanya 5 siswa yang mendapat nilai ≥70 dan 23 siswa lainnya mendapat nilai˂ 70. Dan menurut peneliti, pembelajaran masih perlu ditingkatkan dan diperbaiki agar tujuan pembelajaran dapat tercapai.
Untuk pemahaman siswanya, berdasarkan hasil analisis nilai tes akhir siklus siswa pada siklus II, terdapat peningkatan ketuntasan belajar dari siklus I ke siklus II yaitu 46,4%. Pembelajaran menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe think pair share belum maksimal dalam mencapai target yang diharapkan peneliti dikarenakan hasil pengerjaan LKS, Latihan soal pada kegiatan dalam LKS masih banyak yang salah dan diperkuat oleh hasil pengerjaan soal tes akhir siklus I siswa dengan persentase ketidaktuntasan yaitu 82,1%. Dari hasil pengerjaan LKS, kegiatan dalam LKS dan tes akhir siklus I masih banyak siswa yang tidak dapat mengaplikasikan sifat-sifat logaritma dalam mengerjakan soal, dan banyak kesalahan dalam menuliskan simbol-simbol logaritma.
Pada siklus II sudah ada peningkatan nilai akhir siklus siswa yaitu dari siklus I dengan rata-rata 49 ke siklus II rata-rata 69,6 dengan peningkatan ketuntasan klasikal 46,4%. Pada siklus I siswa yang tuntas belajar sebanyak 5 siswa dan pada siklus II siswa yang tuntas belajar meningkat menjadi 18 siswa. Pembelajaran menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe think pair share untuk memahamkan materi logaritma pada siswa dapat dikatakan belum memahamkan karena masih banyak terdapat kesalahan pada pekerjaan siswa dalam mengerjakan LKS dan latihan soal yang diberikan oleh peneliti.

Kesimpulan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TPS Dari Penelitian
kesimpulan tps

Dapat disimpulan dari hasil penelitian dan pembahasan adalah pembelajaran kooperatif tipe TPS (Think Pair Share) yang telah dilaksanakan di kelas XII IPA SMA PGRI 5 Sidoarjo tahun pelajaran 2011- 2012 dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa pada pokok bahasan matriks dengan metode pembelajaran TPS ini. Karena pada siklus I, II, III siswa memperhatikan penjelasan guru, melaksanakan latihan, memberikan tanggapan, bertanya dan berdiskusi, mempresentasikan kedepan kelas. Dengan hasil aktivitas siswayang selalu meningkat dari siklus ke siklus.
Berdasarkan hasil pengkajian data setelah diberikan tindakan berupa pembelajaran menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe think pair share untuk memahamkan logaritma kelas X SMK, diperoleh peningkatan ketuntasan belajar siswa sebanyak 46,4%. Pada siklus I, hanya 5 siswa yang tuntas belajar (17,9%) dengan rata-rata kelas 49 dan pada siklus II terdapat 18 siswa yang tuntas belajar (64,4%) dengan rata-rata kelas 69,6.
Maka dari penelitian ini diperoleh kesimpulan bahwa dengan menggunakan model pembelajaran TPS dapat meningkat aktivitas belajar siswa sesuai yang diharapkan.

Makalah Ekosistem Sawah dan Tegalan

April 28, 2016 0

Selamat pagi sahabat kali ini saya akan membuat artikel tentang ekosistem sawah dan tegelan yang mana artikel ini adalah makalah dari kelompok saya, dari pembelajaran ektum, jangan lupa folow, like, comen ya,,, langsung saja cikidott...


PENDAHULUAN


Ekosistem adalah suatu sistem ekologi yang terbentuk oleh hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan lingkungannya. Ekosistem bisa dikatakan juga suatu tatanan ke-satuan secara utuh dan menyeluruh antara se-genap unsur lingkungan hidup yang saling mempengaruhi. Ekosistem terbagi atas tiga tipe ekosistem, yakni; ekosistem air, ekositem darat dan ekosistem buatan. Salah satu contoh eko-sistem buatan adalah ekosistem sawah (Elfis, 2010a).
Sawah adalah lahan usaha pertanian yang secara fisik berpermukaan rata, dibatasi oleh pematang, serta dapat di tanami padi, palawija atau tanaman budidaya lainnya. Kebanyakan sawah digunakan untuk bercocok tanam padi. Untuk keperluan ini, sawah harus mampu menyangga genangan air karena padi me-merlukan penggenangan pada periode tertentu dalam pertumbuhannya. Untuk mengairi sawah digunakan sistem irigasi dan mata air, sungai atau air hujan. Sawah yang terakhir dikenal sebagai sawah tadah hujan, sementara yang lainnya adalah sawah irigasi. Padi yang ditanam di sawah dikenal sebagai padi lahan basah (Wikipedia, 2011).





BAB 1
EKOSISTEM SAWAH

1.1 Pengertian Ekosistem Sawah
           Suatu ekosistem pada dasarnya me-rupakan suatu sistem ekologi tempat ber-langsungnya sistem pemrosesan energi dan per-putaran materi oleh komponen-komponen ekosistem dalam waktu tertentu. Unsur-unsur ekosistem terdiri dari unsur komponen abiotik yang terdiri dari habitat seperti tanah, air, udara, materi organik, dan anorganik hasil de-komposisi makhluk hidup termasuk cahaya matahari dan iklim, dan komponen biotik yang terdiri dari semua unsur makhluk hidup, tumbuhan, hewan, dan mikrobiota; yang ter-susun dari unsur ototrof sebagai produsen (tumbuhan hijau), unsur heterotrof sebagai konsumen dan dekomposer (Elfis, 2010a).

       Lebih lanjut Elfis (2010a), menyatakan bahwa ekosistem adalah suatu sistem ekologi yang terbentuk oleh hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan lingkungannya. Ekosistem bisa dikatakan juga suatu tatanan ke-satuan secara utuh dan menyeluruh antara se-genap unsur lingkungan hidup yang saling mempengaruhi. Ekosistem terbagi atas tiga tipe ekosistem, yakni; ekosistem air, ekositem darat dan ekosistem buatan. Salah satu contoh eko-sistem buatan adalah ekosistem sawah.
Sawah adalah lahan usaha pertanian yang secara fisik berpermukaan rata, dibatasi oleh pematang, serta dapat di tanami padi, palawija atau tanaman budidaya lainnya. Kebanyakan sawah digunakan untuk bercocok tanam padi. Untuk keperluan ini, sawah harus mampu menyangga genangan air karena padi me-merlukan penggenangan pada periode tertentu dalam pertumbuhannya. Untuk mengairi sawah digunakan sistem irigasi dan mata air, sungai atau air hujan. Sawah yang terakhir dikenal se-bagai sawah tadah hujan, sementara yang lainnya adalah sawah irigasi. Padi yang ditanam di sawah dikenal sebagai padi lahan basah (Wikipedia, 2011).

       Menurut Aryulina dkk (2007), sawah me-rupakan ekosistem buatan yang dibentuk secara sengaja oleh manusia untuk memenuhi ke-butuhannya. Ekosistem buatan mendapatkan subsidi energi dari luar, tanaman atau hewan peliharaan didominasi pengaruh manusia, dan memiliki keanekaragaman rendah.

      Senada dengan itu Watanabe dalam Litbang Deptan (2010), menyatakan bahwa sawah adalah suatu ekosistem buatan dan suatu jenis habitat khusus yang mengalami kondisi kering dan basah tergantung pada ketersediaan air. Karakteristik ekosistem sawah ditentukan oleh penggenangan, tanaman padi, dan budi dayanya. Sawah tergenang biasanya merupakan lingkungan air sementara yang dipengaruhi oleh
keanekaragaman sinar matahari, suhu, pH, kon-sentrasi O2, dan status hara.

1.2 Ekosistem Tegalan
1.2.1 Pengertian Ekosistem Tegalan

      Tegalan adalah tanah kering yang terletak disekitar daerah pemukiman (desa) karena keadaannya yang kering tidak dapat diubah menjadi sawah (Sugeng HR, 1989:62).
Menurut YT. Prasetyo (2006), tegalan adalah suatu daerah dengan lahan kering yang bergantung pada turunnya air hujan atau lahan yang tidak memperoleh pengairan tekhnis ataupun setengah teknis.

 Menurut YT.Prasetyo (2006), dilihat dari segi iklim tagelan atau lahan kering dibedakan menjadi:

a. Lahan kering beriklim basah
      Lahan kering beriklim basah ini ditandai dengan curah hujan lebih dari 2.200 mm pertahun dengan penyebaran relatif merata.

b. Lahan kerng beriklim kering
      Lahan kering beriklim kering memounyai curah hujan antara 1.000-1.500 mm per tahun selama 3-4 bulan dengan penyebaran yang tidak teratur.

1.3 Klimatologis Dan Edaphis Ekosistem Sawah
1.3.1 Klimatologis Ekosistem Sawah

      Klimatologi didefinisikan sebagai ilmu yang memberi gambaran dan penjelasan penjelasan sifat iklim, mengapa iklim di berbagai tempat berbeda dan bagaimana kaitan antara iklim dan aktivitas manusia, Secara mudahnya, ilmu iklim/klimatologi yaitu cabang ilmu pengetahuan yang membahas sintesis atau statistik unsur-unsur cuaca hari demi hari dalam periode tertentu (beberapa tahun) di suatu tempat dan wilayah tertentu.

       Menurut Angga Mechan, Klimatologi adalah ilmu yang mempelajari tentang atmosfir.mirip dengan meterologi tapi dalam kajiannya meterologi lebih membahas tentang atmosfer,sedangkan pada klimatologi pada hasil akhir dari proses-proses atmosfer.
Padi dapat tumbuh baik di daerah daerah yang berhawa panas dan udara nya banyak mengandung uap air.di negri kita padi di tanam dari dataran rendah sampai 1.300 meter diatas permukaan laut. Padi menghendaki tempat dan lingkungan yang terbuka yang banyak mendapat sinar matahari (soemartono dkk, 1984:43-44).

       Iklim merupakan rerata cuaca pada jangka panjang, minimal per musim atau per periode atau per tahun, dan seterusnya. Sedangkan cuaca adalah kondisi iklim pada suatu waktu berjangka pendek, misalnya harian, mingguan, bulanan, dan maksimal semusim atau periode (Dr.Ir. Kemas A.H, M.S , 2005:50).

       Adapun komponen-komponen klimatologi tersebut adalah sebagai berikut:
\
1. suhu
       Suhu merupakan salah satu faktor lingkungan yang sangat berpengaruh terhadap kehidupan makhluk hidup,termasuk tumbuhan. Suhu dapat memberikan pengaruh baik secara langsung maupun tidak langsung. Menurut Rai dkk(1998) suhu dapat berperan langsung hampir pada setipa fungsi dari tumbuhan denggan mengontrol laju proses-proses kimia dalam tumbuhan tersebut,serta berperan tidak langsung dengan mempengaruhi faktor-faktor lain nya trrutama suplai air.suhu akan mempengaruhi lajub epavorasi dan memnyebab kan keefektifan hujan tetapi juga laju kehilangan air dari organisme (elfis 2010).

2. Kelembaban udara
       Kelembapan adalah konsentrasi uap air di udara. Angka konsentasi ini dapat diekspresikan dalam kelembapan absolut, kelembapan spesifik atau kelembapan relatif. Alat untuk mengukur kelembapan disebut hygrometer (Wikipedia, 2012).

3. Angin
Angin adalah udara yang bergerak yang diakibatkan oleh rotasi bumi dan juga karena adanya perbedaan tekanan udara di sekitarnya. Angin bergerak dari tempat bertekanan udara tinggi ke bertekanan udara rendah (Wikipedia, 2012).

4. Kelembapan
       Kelembapan merupakan salah satu komponen abiotik diudara dan ditanah. Kelembapan di udara berarti kamdungan uap air diudara sedangkan kelembapan ditanah berarti kandungan air ditanah (aryulina dkk, 2007:269).

5. Awan, kabut
       Awan ialah gumpalan uap air yang terapung di atmosfera. Ia kelihatan seperti asap berwarna putih atau kelabu di langit. Awan tidak sama jenisnya dan selalu berubah bentuk. Awan bergantung pada ketinggian dan suhunya.

       Awan dibedakan menurut bentuk dan tingginya ada 4 kumpulan yang utama, yaitu awan rendah, awan sederhana tinggi, awan tinggi dan awan yang tinggi keatas.

A. Awan Rendah
- terdiri dari awan Stratokumulus, awan Nimbostratus dan awan Stratus.
- terletak kurang daripada 3000 meter dari muka bumi.

a. Stratokumulus
       Stratokumulus (Sc) ialah awan berwarna kelabu/putih yang terjadi apabila bahagian puncak awan kumulus yang terbentuk pada waktu petang menghampar dibawah songsangan suhu. Awan-awan ini terjadi pada lewat petang dan senja apabila atmosfera mula menjadi stabil. Warna kekuningan muda adalah disebabkan pantulan sinaran suria pada waktu senja. Stratokumulus juga akan boleh terjadi tanpa penghamparan awan kumulus.

b. Nimbostratus
      Awan Nimbostratus gelap dan mempunyai lapisan-lapisan jelas dan dikenali juga sebagai awan hujan

c. Stratus
       Stratus ialah awan berupa cebisan kain koyak terbentuk dalam udara lembab bergelora pada paras rendah atmosfera selepas hujan. Warna kekuningan muda latar belakang adalah disebabkan oleh pantulan sinaran suria waktu senja oleh sirrostratus yang terjadi selepas aktiviti ribut petir pada waktu petang. Awan Stratus sangat rendah, tebal dan berwarna kelabu.

B. Awan Sederhana Tinggi
- tediri dari awan Altokumulus dan Altostratus.
- letaknya antara 3000 hingga 6000 meter dari muka bumi

a. Altokumulus
       Awan Altokumulus berkepul-kepul, tidak rata dan berlapis.Awan itu menandakan keadaan cuaca yang baik. Tiap-tiap elemen nampak jelas tersisih antara satu sama lain dengan warna keputihan dan kelabu yang mana membedakannya daripada Sirokumulus.

b. Altostratus
      Altostratus(As), awan kekelabuan (bergantung kepada ketebalan) peringkat pertengahan yang menghasilkan hujan apabila cukup tebal. Awan-awan ini terjadi dalam lapisan atmosfera stabil dan boleh menjadi tebal apabila cukup kelembapan dan penyejukan. Hujan berterusan pada waktu senja dan malam selepas aktiviti ribut petir pada lewat petang dan senja adalah disebabkan perkara ini. Awan-awan di atas terbentuk pada waktu senja dan malam hari terdahulu, mula menghilang apabila matahari terbit pada awal pagi. Awan Altostratus lebih padat, berwarna kelabu dan kelihatan seperti air.

C. Awan Tinggterdiri dari awan Sirus, Sirokumulus dan Sirostratus

a. Sirus
      Awan Sirus(Ci) ditiupkan angin timuran yang bergelora. Awan ini berwarna putih dengan pinggiran tidak jelas. Awan Sirus kelihatan seperti kapas tipis dan awan ini menunjukkan cuaca agak cerah.

b. Sirokumulus
Awan Sirokumulus kelihatan seperti sisik ikan.

c. Sirostratus
Awan Sirostratus ialah awan putih yang tipis

D. Awan yang Tinggi ke Atas
- terdiri dari awan Kumulus dan awan Kumulonimbus.
- letaknya kira-kira 6000 hingga 9000 meter dari muka bumi.

a. Kumulus
       Pandangan jarak dekat awan Kumulus yang sedang berkembang aktif pada lewat pagi dan awal petang disebabkan pemanasan permukaan tanah dan perolakan. Awan-awan itu kelihatan seperti ‘popcorns’ dengan tepian nyata(clear outline). Warnanya putih pada puncak kerana semua gelombang sinar suria dipantulkan pada kadar yang sama. Warna gelap itu disebabkan oleh penembusan terhad sinar suria dan juga kadar serapan yang bertambah terhadap gelombang selebihnya kerana titisan air besar. Dengan kandungan kelembapan dan penaikan udara mencukupi, awan-awan ini tumbuh tinggi dan menghasilkan hujan panas. Dalam keadaan ketidakstabilan udara yang mendalam, ribut petir berlaku pada waktu petang atau lewat petang Awan Kumulus terbentuk kelompok-kelompok bulat

b. Kumulonimbus
       Pemandangan jarak jauh deretan awan Kumulonimbus (Cb) . Awan-awan ini tinggi berwarna putih / gelap. Tapaknya terletak pada ketinggian kira-kira 1000 kaki manakala puncaknya boleh mencapai ketinggian melebihi 35000 kaki. Pembentukan deretan awan ini merupakan satu ciri biasa pada awal pagi Monsun Barat Daya. Kedudukan Sel-sel Cb yang begitu rapat menyebabkan awan-awan itu kelihatan bersambung. Warna kuning keemasan itu disebabkan pantulan sinar suria pagi yang sedang terbit di timur. Awan nipis berbentuk topi kelihatan diatas puncak awan Cb menunjukan kewujudan udara stabil mengalir diatas puncak awan itu (Cb). Awan-awan Cb ini kerap bergerak masuk ke pedalaman melalui kawasan pantai pada peringkat akhir Monsun Barat Daya. Apabila ketidakstabilan atmosfera mencapai lebih tinggi, awan-awan ini membawa hujan lebat dan ribut petir kepada kawasan terlibat.

      Awan Kumulonimbus berbentuk kelompok-kelompok besar. Kelompok-kelompok yang berwarna putih dan hitam ini mempunyai bentuk dan rupa yang beranekaragam. Awan membawa hujan yang disertai dengan kilat dan petir ( blogspot, 2012).

       Kabut (Fog) adalah awan lembap yang terjadi pada permukaan bumi yang mengandung jutaan butiran – butiran air yang sangat kecil dan melayang - layang di udara ( blogspot, 2012).

1.3.2 Edaphis Ekosistem Sawah
   
      Menurut Aryulina (2007), tanah merupakan hasil pelapukan batuan yang disebabkan oleh iklim atau lumut dan pembusukan bahan organik.
 
      Tanah (bahasa Yunani: pedon; bahasa Latin: solum) adalah bagian kerak bumi yang tersusun dari mineral dan bahan organik. Tanah berasal dari pelapukan batuan dengan bantuan organisme, membentuk tubuh unik yang menutupi batuan. Proses pembentukan tanah dikenal sebagai ''pedogenesis'' (Wikipedia, 2012).

      Menurut Ensiklopedia (2012), macam-macam/jenis-jenis tanah yang ada di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia:

1. Tanah Humus
      Tanah humus adalah tanah yang sangat subur terbentuk dari lapukan daun dan batang pohon di hutan hujan tropis yang lebat.

2. Tanah Pasir
      Tanah pasir adalah tanah yang bersifat kurang baik bagi pertanian yang terbentuk dari batuan beku serta batuan sedimen yang memiliki butir kasar dan berkerikil.

3. Tanah Alluvial / Tanah Endapan
      Tanah aluvial adalah tanah yang dibentuk dari lumpur sungai yang mengendap di dataran rendah yang memiliki sifat tanah yang subur dan cocok untuk lahan pertanian.

4. Tanah Podzolit
      Tanah podzolit adalah tanah subur yang umumnya berada di pegunungan dengan curah hujan yang tinggi dan bersuhu rendah / dingin.

5. Tanah Vulkanik / Tanah Gunung Berapi
      Tanah vulkanis adalah tanah yang terbentuk dari lapukan materi letusan gunung berapi yang subur mengandung zat hara yang tinggi. Jenis tanah vulkanik dapat dijumpai di sekitar lereng gunung berapi.

6. Tanah Laterit
       Tanah laterit adalah tanah tidak subur yang tadinya subur dan kaya akan unsur hara, namun unsur hara tersebut hilang karena larut dibawa oleh air hujan yang tinggi. Contoh : Kalimantan Barat dan Lampung.

7. Tanah Mediteran / Tanah Kapur
         Tanah mediteran adalah tanah sifatnya tidak subur yang terbentuk dari pelapukan batuan yang kapur. Contoh : Nusa Tenggara, Maluku, Jawa Tengah dan Jawa Timur.

8. Tanah Gambut / Tanah Organosol
        Tanah organosol adalah jenis tanah yang kurang subur untuk bercocok tanam yang merupakan hasil bentukan pelapukan tumbuhan rawa. Contoh : rawa Kalimantan, Papua dan Sumatera.
Padi dapat diusahakan ditanah kering dan disawah. Ditanah kering padi dapat tumbuh dengan baik dan akan banyak memberi hasil, apabila tanah subur dan banyak mengandung humus. Pada pertanaman padi diladang yang tanahnya berasal dari tanah hutan yang baru dibuka (soemartono dkk, 1984:46).

1.3.3  jaring-jaring makanan ekosistem sawah dan tegalan

         Jaring- jaring makanan, yaitu rantai-rantai makanan yang saling berhubungan satu sama lain sedemikian rupa sehingga membentuk seperi jaring-jaring. Jaring-jaring makanan terjadi karena setiap jenis makhluk hidup tidak hanya memakan satu jenis makhluk hidup lainnya.(Wikipedia, 2012)
Rantai makanan, yaitu perpindahan materi dan energi melalui proses makan dan dimakan dengan urutan tertentu. Tiap tingkat dari rantai makanan disebut tingkat trofi atau taraf trofi. Karena organisme pertama yang mampu menghasilkan zat makanan adalah tumbuhan maka tingkat trofi pertama selalu diduduki tumbuhan hijau sebagai produsen. Tingkat selanjutnya adalah tingkat trofi kedua, terdiri atas hewan pemakan tumbuhan yang biasa disebut konsumen primer. Hewan pemakan konsumen primer merupakan tingkat trofi ketiga, terdiri atas hewan-hewan karnivora. Setiap pertukaran energi dari satu tingkat trofi ke tingkat trofi lainnya, sebagian energi akan hilang.(Wikipedia, 2012)


rantai makan ekosistem sawah dan tegalan




        Dalam suatu ekosistem umumnya tidak hanya terdiri dari satu rantai makanan, akan tetapi banyak rantai makanan. Tumbuhan hijau tidak hanya dimakan oleh satu organisme saja, tetapi dapat dimakan oleh berbagai konsumen primer. Misalnya: padi daunnya dimakan ulat, ulat dimakan burung pipit, burung pipit dimakan burung elang, Padi juga dimakan tikus, tikus dimakan oleh burung elang, tikus juga dimakan ular. padi juga dimakan burung, burung pipit dimakan burung elang. Akibatnya dalam suatu ekosistem tidak hanya terdapat satu rantai makanan saja tetapi banyak bentuk rantai makanan. Rantai-rantai makanan yang saling berhubungan antara satu dengan yang lain disebut jaring-jaring makanan. (smartschool, 2012)

BAB 2


KOMPONEN – KOMPONEN EKOSISTEM SAWAH

2.1 Komponen Abiotik Ekosistem Sawah

        Menurut Elfis (2010a), unsure-unsur ekosistem terdiri dari unsure komponen Abiotik yang terdiri dari habitat seperti tanah, air, udara, materi organic, dan an-organik hasil dekomposisi mahluk hidup termasuk cahaya matahari dan iklim.

Adapun komponen abiotik ekosistem sawah adalah sebagai berikut:

1. Tanah

         Tanah merupakan hasil pelapukan batuan yang disebabkan oleh iklim atau lumut, dan pembusukan bahan organik, tanah memiliki sifat, tekstur, dan gangguan mineral tertentu. Tanah yang subur sangat diperlukan oleh organism untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Tumbuhan akan tumbuh dengan baik pada tanah yang subur.(Aryulina,2007)

        Tanah merupakan tempat hidup bagi organisme. Jenis tanah yang berbeda menyebabkan organisme yang hidup didalamnya juga berbeda. Tanah juga menyediakan unsur-unsur penting bagi pertumbuhan organisme, terutama tumbuhan.( shvoong/ exact-sciences, 2012)

2. Air

        Air merupakan sumber kehidupan yang tidak dapat tergantikan oleh apa pun juga. Tanpa air seluruh organisme tidak akan dapat hidup. Bagi tumbuhan, air mempunyai peranan yang penting karena dapat melarutkan dan membawa makanan yang diperlukan bagi tumbuhan dari dalam tanah. Adanya air tergantung dari curah hujan dan curah hujan sangat tergantung dari iklim di daerah yang bersangkutan.

         Air menutupi sekitar 70% permukaan bumi, dengan jumlah sekitar 1.368 juta km3. Air terdapat dalam berbagai bentuk, misalnya uap air, es, cairan dan salju. Air tawar terutama terdapat di danau, sungai, air tanah (ground water) dan gunung es (glacier). Semua badan air di daratan dihubungkan dengan laut dan atmosfer melalui siklus hidrologi yang berlangsung secara kontinu (Effendi dalam ELfis, 2010b).

        Air merupakan faktor lingkungan yang penting, semua organisme hidup memerlukan kehadiran air ini. Perlu dipahami bahwa jumlah air di sistem bumi kita ini adalah terbatas dan dapat berubah-ubah akibat proses sirkulasinya. Pengeringan bumi sulit untuk terjadi akibat adanya siklus melalui hujan, aliran air, transpirasi dan evaporasi yang berlangsung secara terus menerus. Bagi tumbuhan air adalah penting karena dapat langsung mempengaruhi kehidupannya. Bahkan air sebagai bagian dari faktor iklim yang sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perubahan struktur dan organ tumbuhan.(Elfis, 2010 )

        Air terdiri dari molekul-molekul H2O. Air dapat berbentuk padat, cair, dan gas. Dialam, air dapat berbentuk padat, misalnya es dan Kristal es (salju), serta berbentuk gas berupa uap air. Dalam kehidupan, air sangat diperlukan oleh mahluk hidup karena sebagian besar tubuhnya mengandung air.(Aryulina, 2007:269)

3. Udara

       udara terdiri dari berbagai macam gas, yaitu nitrogen (78,09%), oksigen (20,93%), karbon dioksida (0,03%), dan gas-gas lain. Nitrogen diperlukan mahluk hidup untuk membentuk protein. Oksigen digunakan makhluk untuk bernafas. Karbon dioksida diperlukan tumbuhan untuk fotosintesis.(Aryulina, 2007:269).

4. Cahaya matahari

       Cahaya matahari; kebutuhan tumbuh-tumbuhan akan cahaya matahari ber-kaitan pula dengan energi dan suhu udara yang ditimbulkannya. Terdapat 4 kelompok vegetasi yang dipeng-aruhi oleh suhu lingkungan panas se-panjang tahun, misalnya tumbuhan daerah tropis), mesotermal (tumbuhan yang menyukai lingkungan yang tidak bersuhu terlalu panas atau terlalu dingin), mikrotermal (tumbuhan di habitatnya, yaitu kelompok vegetasi atau tumbuhan megatermal (tumbuhan menyukai habitat bersuhu yang menyukai habitat bersuhu rendah atau dingin, misalnya tum-buhan dataran tinggi atau habitat subtropis) dan hekistotermal yaitu tumbuhan yang terdapat di daerah kutub atau alpin (Elfis, 2010c).

       Cahaya matahari mempengaruhi ekosistem secara global Karena matahari menentukan suhu lingkungan. Cahaya matahari juga merupakan unsure vital yang dibutuhkan oleh tunbuhan sebagai produsen untuk berfotosintesis.(pratiwi,2007:273)

       Sinar matahari mempengaruhi ekosistem secara global karena matahari menentukan suhu. Sinar matahari juga merupakan unsur vital yang dibutuhkan oleh tumbuhan sebagai produsen untuk berfotosintesis. ( shvoong/ exact-sciences, 2012)

5. Iklim

       Iklim merupakan rerata cuaca pada jangka panjang, minimal permusim atau per periode atau per tahun, dan seterusnya, sedangkan cuaca adalah kondisi iklim pada suatu waktu berjangka pendek, misalnya harian, mingguan, bulanan dan maksimal semusim atau seperiode.(Hanafi, 2007).

2.2 Komponen Biotik Ekosistem Sawah

       Menurut Elfis (2010), komponen biotik ialah faktor yang meliputi semua mahluk hidup dibumi, baik tumbuhan maupun hewan. Dalam ekosistem, dan mikroorganisme berperan sebagai decomposer. Berdasarkan fungsinya komponen Biotik dibedakan atas:

1. Produsen
       Produsen, merupakan organisme yang mampu membentuk makananya sendiri dari zat-zat organik melalui proses fotosintesa dan klorofil. Or-ganisme ini disebut autotrof karena mampu membentuk makanannya sen-diri juga menyediakan kebutuhan makhluk hidup lainnya. Contoh: tum-buhan hijau (padi).

2. Konsumen
       Konsumen, adalah sekelompok makhluk hidup yang memakan pro-dusen dan hewan lainnya. Kelompok ini tidak mampu membuat makanan-nya sendiri dari bahan anorganik. Karena itu, ia sangat ter-gantung pada organisme produsen. Organisme kon-sumen disebut heterotrof. Pada konsumen juga ter-dapat tingkatan lagi. Hewan yang me-makan organisme produsen disebut konsumen primer. Jenisnya terdiri dari herbivora dalam struktur trofik menduduki tingkat trofik kedua. Konsumen yang memakan herbivora disebut konsumen skunder dan terdiri dari hewan-hewan karnivora atau om-nivora. Konsumen trofik ini berada pada tingkat trofik ketiga. Contoh: belalang, burung, siput dan lain-lain.

3. Pengurai
      Pengurai, merupakan organisme yang menguraikan sisa-sisa makhluk hidup lainnya yang telah mati menjadi zat-zat anorganik. Zat ini tersimpan dalam tanah dan dimanfaatkan tumbuhan se-bagai bahan makanannya. Organisme pengurai adalah bakteri dan jamur.

2.3 Jaring-jaring Makanan Ekosistem Sawah

      Suatu organisme hidup akan selalu membutuhkan organisme lain dan ling-kungan hidupnya. Hubungan yang terjadi antara individu dengan lingkungannya sangat kompleks, bersifat saling mem-pengaruhi atau timbal balik. Hubungan timbal balik antara unsur-unsur hayati dengan nonhayati mem-bentuk sistem ekologi yang disebut ekosistem. Di dalam ekosistem terjadi rantai makanan, aliran energi, dan siklus biogeokimia. Rantai makanan adalah pengalihan energi dari sumbernya dalam tumbuhan melalui sederetan organisme yang makan dan yang dimakan (Admin, 2010b).

      Bila sebagian dari biomassa suatu komunitas tumbuhan dimakan. Energi itu di teruskan ke pada suatu heterotrof, yang untuk keberadaannya bergantung pada energi tersebut. Misalnya belalang, tumbuh dan melaksanakan seluruh kegiatannya berkat energi yang tersimpan dalam tumbuhan yang dimakannya. Pada gilirannya, herbivora menyediakan makanan untuk hewan karnivora. Belalang tadi dapat di makan oleh katak. Proses pemindahan energi dari makhluk ke makhluk dapat berlanjut. Katak dapat di makan oleh ular hitam, yang pada gilirannya dapat di makan oleh burung elang. Lintasan konsumsi makanan seperti ini di sebut rantai makanan (Kimbal, 1983).

       Pada setiap tingkatan konsumsi dalam rantai makanan, sebagian dari hasil bersih tingkatan tersebut tidak di-konsumsi oleh tingkatan yang lebih tinggi berikutnya, tetapi setelah organisme itu mati, diurai oleh banyak sekali terdapat didalam tanah dan dimana pun organik terdapat. Mereka meng-ekstrasi energi yang tersisa dalam bahan organik dengan melepaskan produk an-organik dari degradasinya (umpamanya, CO2, NH3) kembali ke alam seitarnya. Aliran energi melalui biosfer ini searah; dari matahari ke produsen, kemudian ke konsumen, dan akhirnya ke organisme pengurai. Akan tetapi, bahan-bahan pem-bangun benda hidup dan yang menyimpan energi matahari harus di daur ulang jika sistem itu harus berlanjut (Kimbal, 1983).

      Menurut Admin (2010b), rantai makanan adalah pengalihan energi dari sumbernya dalam tumbuhan melalui se-deretan organisme yang makan dan yang dimakan. Para ilmuwan ekologi mengenal tiga macam rantai pokok, yaitu rantai pemangsa, rantai parasit, dan rantai saprofit yang akan dijelaskan sebagai berikut :
  1. Rantai pemangsa, rantai pemangsa landasan utamanya adalah tumbuhan hijau sebagai produsen. Rantai pemangsa dimulai dari hewan yang bersifat herbivora sebagai konsumen I, dilanjutkan dengan hewan karnivora yang memangsa herbivora sebagai konsumen ke-2 dan berakhir pada hewan pemangsa karnivora maupun herbivora sebagai konsumen ke-3.
  2. Rantai parasit, rantai parasit dimulai dari organisme besar hingga organisme yang hidup sebagai parasit. Contoh organisme parasit antara lain cacing, bakteri, dan benalu.
  3. Rantai saprofit, rantai saprofit dimulai dari organisme mati ke jasad pengurai. Misalnya jamur dan bakteri. Rantai-rantai di atas tidak berdiri sendiri tapi saling berkaitan satu dengan lainnya sehingga membentuk jaring-jaring makanan.





2.4 Interaksi antar Tumbuhan pada Ekosistem Sawah

2.4.1 Pola-pola Interaksi Biotik Pada Ekosistem sawah dan Tegalan

       Organisme hidup di alam tidak berdiri sendiri-sendiri atau tidak hidup sendiri-sendiri, melainkan menjadi satu kumpulan individu-individu yang me-nempati suatu tempat tertentu, sehingga antarorganisme akan terjadi interaksi. Interaksi-interaksi yang terjadi dapat merupakan interaksi antar individu dari spesies yang sama, dapat juga merupakan interaksi antar individu dari spesies yang berbeda (Indriyanto, 2010).

       Dalam komunitas, semua organisme merupakan bagian dari komunitas dan antara komponennya saling berhubungan melalui keragaman interaksinya. Interaksi antar komponen ekologi dapat merupakan interaksi antar organisme, antar populasi, dan antar komunitas (Elfis c, 2010).

1) Interaksi Antar Organisme

      Semua makhluk hidup selalu ber-gantung kepada makhluk hidup yang lain. Tiap individu akan selalu ber-hubungan dengan individu lain yang se-jenis atau lain jenis, baik individu dalam satu populasinya atau individu-individu dari populasi lain. Interaksi demikian banyak kita lihat disekitar kita. Interaksi antar organisme dapat dikategorikan se-bagai berikut:
  • Netral, adalah hubungan tidak saling mengganggu antar organisme dalam habitat yang sama yang bersifat tidak menguntungkan dan tidak merugikan kedua belah pihak. Contohnya: capung dan babi.
  • Predasi, adalah hubungan antara mangsa dan pemangsa. Hubungan ini sangat erat sebab tanpa mangsa, predator tak dapat hidup. Sebaliknya, predator juga berfungsi sebagai peng-ontrol populasi mangsa. Contohnya: Tikus (mangsa) dan kucing (pemangsa).
  • Parasitisme, adalah hubungan antar organisme yang berbeda spesies, bila salah satu organisme hidup pada organisme lain dan mengambil makanan dari hospes/inangnya se-hingga bersifat merugikan inangnya. Contohnya: pacet (parasit) dan babi (inangnya) 
  • Komensalisme, adalah merupakan hubungan antara dua organism yang berbeda spesies dalam bentuk ke-hidupan bersama untuk berbagi sumber makanan; salah satu spesies diuntungkan dan spesies lainnya tidak dirugikan. Contohnya: paku-pakuan dengan pohon yang ditumpanginya.
  • Mutualisme, adalah hubungan antara dua organism yang berbeda spesies yang saling menguntungkan kedua belah pihak. Contohnya: kupu-kupu dan bunga.
2) Interaksi Antar Populasi

         Menurut Elfis (2010c), antara populasi yang satu dengan populasi lain selalu terjadi interaksi secara langsung atau tidak langsung dalam komunitasnya. Kompetisi merupakan interaksi antar populasi, bila antar populasi terdapat ke-pentingan yang sama sehingga terjadi persaingan untuk mendapatkan apa yang diperlukan. Contohnya: persaingan antara populasi rumput dan kelapa sawit dalam memperebutkan hara. Antara populasi yang satu dengan populasi lain selalu ter-jadi interaksi secara langsung atau tidak langsung dalam komunitasnya.
Contoh interaksi antar populasi adalah sebagai berikut:
  • Alelopati merupakan interaksi antarpopulasi, bila populasi yang satu menghasilkan zat yang dapat menghalangi tumbuhnya populasi lain. Contohnya: disekitar pohon walnut (juglans) jarang ditumbuhi tumbuhan lain karena tumbuhan ini menghasilkan zat yang bersifat toksik. Pada mikroorganisme istilah alelopati dikenal sebagai anabiosa. Contohnya: jamur Penicillium sp dapat menghasilkan antibiotika yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri ter-tentu.
  • Kompetisi merupakan interaksi antar-populasi, bila antarpopulasi terdapat kepentingan yang sama sehingga ter-jadi persaingan untuk mendapatkan apa yang diperlukan. Contohnya: per-saingan antara populasi kambing dengan populasi sapi dipadang rumput
3) Interaksi antar komunitas

        Komunitas adalah kumpulan populasi yang berbeda di suatu daerah yang sama dan saling berinteraksi. Contoh ko-munitas, misalnya komunitas tepi sungai dan komunitas sungai. Komunitas tepi sungai disusun oleh bermacam-macam organisme, misalnya rumput, pohon, rotan, sapi, kerbau, manusia. Komunitas sungai terdiri dari ikan, enceng gondok, ganggang, zooplankton, fitoplankton, dan dekomposer. Antara komunitas tepi sungai dan sungai terjadi interaksi dalam bentuk peredaran nutrient dari air ketika terjadi banjir atau air pasang maka tepi sungai akan tergenang. Interaksi antar komunitas cukup kompleks karena tidak hanya melibatkan organisme, tapi juga aliran energi dan makanan. Interaksi antar komunitas dapat kita amati, misalnya pada daur karbon. Daur karbon melibatkan ekosistem yang berbeda misalnya laut dan darat.

4) Interaksi Antar Komponen Biotik dengan Abiotik

        Dalam ekosistem, interaksi antara komponen biotik dan abiotik mulai ter-jadi dari tingkat individu hingga biosfer. Interaksi komponen biotik dengan abiotik misalnya pada penggunaan oksigen untuk pernapasan dan penyerapan cahaya matahari dengan panjang gelombang ter-tentu untuk fotosintesis pada tumbuhan hijau. Interaksi tersebut akan semakin kompleks pada tingkat ekosistem dan biosfer. Interaksi antara komponen biotik dan abiotik pada tingkat biosfer adalah interaksi yang paling kompleks. Biosfer merupakan tempat interaksi seluruh ekosistem di bumi. Pada tingkat ekosistem, individu atau populasi me-miliki peran yang khas dalam kaitan interaksinya dengan lingkungan biotik dan abiotik. Kekhasan fungsi suatu individu atau populasi dalam ekosistem disebut niche (relung).

        Menurut Aryulina (2007), ber-dasarkan peran khasnya, suatu individu atau populasi dibedakan menjadi empat kelompok, yaitu:

a) Produsen
       Produsen adalah organisme yang menyususn senyawa organik atau mem-buat makanan sendiri dengan bantuan cahaya matahari. Organisme yang ter-golong produsen meliput organism yang melakukan fotosintesis, yaitu: tumbuhan hijau, beberapa jenis bakteri, serta ganggang hijau biru.

b) Konsumen
      Konsumen adalah organisme yang tidak mampu menyusun senyawa organik atau membuat makanannya sendiri. Untuk memenuhi kebutuhan makanan-nya, organisme ini bergantung pada organisme lain. Hewan dan manusia ter-golong dalam kelompok sebagai kon-sumen.
c) Dekomposer
      Dekomposer merupakan organisme yang menguraikan sisa-sisa organisme untuk memperoleh makanan atau bahan bahan organik yang diperlukan. Penguraian memungkinkan zat-zat organik yang kompleks terurai menjadi zat-zat yang lebih sederhana kemudian dapat dimanfaatkan kembali oleh produsen. Organisme yang termasuk dekomposer adalah bakteri dan jamur.

d) Detritivor
      Detritivor adalah organisme yang memakan partikel-partikel organic atau detritus. Detritus merupakan hancuran jaringan hewan atau tumbuhan. Organisme detritivor antara lain cacing tanah, siput, keluwing, bintang laut, dan kutu kayu.

     Interaksi antara komponen biotik dengan abiotik membentuk ekosistem. Hubungan antara organisme dengan lingkungannya menyebabkan terjadinya aliran energi dalam sistem itu. Selain aliran energi, di dalam ekosistem terdapat juga struktur atau tingkat trofik, keanekaragaman biotik, serta siklus materi.

      Simbiosis adalah bentuk interaksi yang sangat erat dan khusus antara dua makhluk hidup yang berlainan jenis. Makhluk hidup yang melakukan simbiosis disebut simbion. Simbiosis parasitisme, yaitu: interaksi dua individu/ populasi di mana salah satu individu untung, sedang simbion pasangannya rugi contohnya:

1) Padi dan tikus,

      Dimana tikus dapat menyerang tanaman padi pada ber-bagai fase pertanaman padi fase vegetatif tikus akan memutuskan batang- batang padi sehingga tampak berserakan. Tikus akan menggigit lebih dari jumlah yang di butuhkan untuk di makan. Kerusakan akibat serangan tikus bersifat khas, yaitu di tengah-tengah petakan sawah tampak gundul, sedangkan bagian tepi biasanya tidak diserang.Tikus juga menyerang bendengan persemaian dengan memakan benih- benih yang disebar, atau mencabut tanaman –tanaman yang baru tumbuh.

2) Fase generatif,

      Tikus- tikus akan me-makan malai yang terbentuk dan bulir-bulir padi yangmulai meng-uning, sehingga dapat menyebabkan kehilangan hasil secara langsung. Ke-rusakan tidak akan terlihat dari jarak yang agak jauh sampai per-sentase serangan mencapai 15%. Serangan tikus lebih berat pada musim hujan dari pada musim kemarau

3) Burung dengan padi,

      Burung- burung hama padi memakan langsung bulir padi yang sedang menguning sehingga menyebabkan terjadinya kehilangan hasil secara langsung. Diantara burung- burung ini , bondol hitam dan bondol uban memegang peranan yang lebih penting. Kedua burung ini dapat menyebabkan patahnya malai karena mereka sering hinggap secara bersama- sama padi.

4) Keong,

      Hewan ini dapat menyerang tanaman padi muda, baik di per-semaian maupun bibit yang baru di pindahkan ke sawah. Dengan ke-padatan populasi sekitar 10- 15 ekor per meter persegi , keong mas mampu menghabiskan padi muda dalam waktu 3 hari jika air sawah dalam keadaan tergenang dan me-nimbulkan kerusakan yang cukup berat bagi daerah persawahan (Ismon, 2006). Para petani juga kerap kehilangan bibit yang ditanam dan harus menyulamnya kembali. Keong mas sangat mengganggu lahan per-tanian sehingga disebut hama unggul, karena memakan segala tanaman ter-utama tanaman padi muda dan bibit.

5) Serangga,

      Pada serangga- serangga hama yang mengalami metamorphosis sederhana, umumnya nimfa dan imago mempunyai habitat yang sama. Mereka sama-sama aktif makan dan sama- sama merusak tanaman atau dengan kata lain limfa dan imago semuannya menjadi hama.Akan te-tapi, tidak demikian halnya bagi serangga hama yang mengalami metamorphosis sederhana.

6) Dekomposer (pengurai)

       Merupakan organisme yang mengurai sisa-sisa organisme untuk memperoleh makanan atau memperoleh makanan atau bahan organik yang di perlukan. Penguraian memungkinkan zat- zat organik yang komplek terurai menjadi zat-zat yang lebih sederhana. Kemudian dapat di manfaatkan kembali oleh produsen. Organisme yang termasuk dekomposer adalah bakteri dan jamur (Aryulina, 2007).

7) Detrivitor

         Adalah organisme yang memakan pertikel- partikel organik atau detritus. Detritus merupakan pancuran jaringan hewan atau tumbuhan. Organisme detrivitor antara lain cacing tanah, siput, keluwing, bintang laut, dan kutu kayu (Aryulina, 2007).


Daftar Pustaka

Aryulina, D. 2010. Biologi SMA dan MA Kelas X. Jakarta: Erlangga
Elfis. 2010a. http://elfisuir.blogspot.(Diakses: 17 Maret 2011)
Elfis. 2010b. Hubungan Air dengan Tumbuhan. Available at : http://elfisuir.blogspot. com/2010/02/hubungan-air-dengan-tumbuhan.html. (Diakses 21 Mare 2011).
Elfis. 2010c. Air Dalam Kajian Ekologi Tumbuhan. Available at : http://elfisuir. blogspot.com/2010/02/air-dalam-kajian-ekologi-tumbuhan.html. (Diakses 21 Maret 2011).
http://biologirendy.blogspot.co.id/2016/04/makalah-ekosistem-sawah-dan-tegalan.html
Elfis. 2010d. Ekologi Komunitas. Available at : http://elfisuir.blogspot.com/2010/03/
ekologi-komunitas.html. (Diakses 21 Maret 2011).
Elfis. 2010e. Ekologi Ekosistem. Available at : http://elfisuir.blogspot.com/2010/03/ ekologi  ekosistem.html. (Diakses 22 Maret 2011)
http://id.Wikipedia.org/wiki/Ekosistem. (Diakses: 22 Maret 2011)
Hanafiah, K.A. 2007. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Raja Grafindo Persada. Jakarta
YT.Prasetyo, 2006. Bertanam Padi Gogo Tanpa Oleh Tanah. Jakarta: Penebar Swadaya
Soemartono, 1984. Bercocok Tanam Padi. Jakarta: CV Yasaguna
http://janganlupadibaca.blogspot.com/2010/11/pengertian-klimatologi.html (selasa 15.52  27 maret 2012)
http://id.wikipedia.org/wiki/Sawah (selasa 15.36 27 maret 2012)
Diposkan oleh Angga Mechan di 05:25
Selasa 27 maret 17.03
Elfis suhu dalam kajian ekologi http://id.wikipedia.org/wiki/Kelembapan(di akses tggl 13 april 2012 13.52)
http://id.wikipedia.org/wiki/Ekosistem
http://www.google.co.id/imgres?imgurl=http://1.bp.bhttp://id.wikipedia.org/wiki/Angin  (di akses tggl13 april 2012 13.56)
http://awankumulunimbus.blogspot.com/ (di akses tggl13 april 2012 14.22)
http://e-smartschool.co.id/index.php?option=com_content&task=view&id=229&Itemid=1
(13 April 2012 jam 13:16)
logspot.com/_4AICnOp80v0/S9Q9q4kLxPI/AAAAAAAAAEQ/UeP3z-GQI7Q/s1600/jaring-jaring%2Bmakanan3.JPG&imgrefurl=http://gurudanguru.blogspot.com/2009/05/contoh-rpp-tim-teaching.html&h=384&w=512&sz=18&tbnid=-9encqk4yQI9nM:&tbnh=90&tbnw=120&prev=/search%3Fq%3Dcontoh%2Bjaring%2Bjaring%2Bmakanan%26tbm%3Disch%26tbo%3Du&zoom=1&q=contoh+jaring+jaring+makanan&docid=cEddsq76Ndq31M&hl=id&sa=X&ei=6sqHT7btLYXtrAfujNmSCw&ved=0CC0Q9QEwAQ&dur=3100





Daftar Pustaka
http://biologirendy.blogspot.co.id/2016/04/makalah-ekosistem-sawah-dan-tegalan.html
http://janganlupadibaca.blogspot.com/2010/11/pengertian-klimatologi.html
selasa 15.52  27 maret 2012
http://id.wikipedia.org/wiki/Sawah
selasa 15.36 27 maret 2012
Diposkan oleh Angga Mechan di 05:25
Selasa 27 maret 17.03
Elfis suhu dalam kajian ekologi
http://id.wikipedia.org/wiki/Kelembapan di akses tggl 13 april 2012 13.52
http://id.wikipedia.org/wiki/Ekosistem
http://www.google.co.id/imgres?imgurl=http://1.bp.bhttp://id.wikipedia.org/wiki/Angin di akses tggl13 april 2012 13.56
http://awankumulunimbus.blogspot.com/ di akses tggl13 april 2012 14.22

http://e-smartschool.co.id/index.php?option=com_content&task=view&id=229&Itemid=1
13 April 2012 jam 13:16
logspot.com/_4AICnOp80v0/S9Q9q4kLxPI/AAAAAAAAAEQ/UeP3z-GQI7Q/s1600/jaring-jaring%2Bmakanan3.JPG&imgrefurl=http://gurudanguru.blogspot.com/2009/05/contoh-rpp-tim-teaching.html&h=384&w=512&sz=18&tbnid=-9encqk4yQI9nM:&tbnh=90&tbnw=120&prev=/search%3Fq%3Dcontoh%2Bjaring%2Bjaring%2Bmakanan%26tbm%3Disch%26tbo%3Du&zoom=1&q=contoh+jaring+jaring+makanan&docid=cEddsq76Ndq31M&hl=id&sa=X&ei=6sqHT7btLYXtrAfujNmSCw&ved=0CC0Q9QEwAQ&dur=3100





BAGIKAN KE MEDIA SOSIA DENGAN MENEKAN TOMBOL DIBAWAH